[ONE SHOOT] Tell him Min Ju

MAIN CAST : TOP

SUPPORT CAST : FIND IT😉

 

“tell him Min ju…tell him!!”

“tell him Min ju…tell him!!” itulah kata-kata yang selalu diucapkan sahabatku, Ha ra. Setiap kali aku curhat kepadanya tentang orang yang kusuka. Begitu pun kali ini kata-kata itu lagi yang terucap, seperti dia tidak mempunyai kata-kata yang lain. Aku tahu dia fasih berbahasa Inggris tapi masa cuma ada kata itu

“itu tidak mungkin Ha ra, dia terlalu jauh, terlalu susah untuk digapai..”

“daripada dipendam terus.., nantis sakit hati loh”

“iya tahu… tapi kan tetap saja itu tidak mungkin pasti aku nanti ditolak

“ya udah lupain aja kalau gitu, kan selesai masalahnya!” aku hanya menghela napas, memang susah berbicara kepada Ha ra. Dia terlalu polos dan santai, menanggapi semua hal dengan otak bukan perasaan. Dan lagipula dia belum pernah jatuh cinta jadi dia tidak mungkin merasakan yang sama denganku.

“kalau melupakannnya semudah mengucapkannya, dari dulu aku akan mencoba. Tapi tidak bisa, Tirus terlalu baik. Otakku tidak bisa melupakannya”

“aahh masalahmu terlalu rumit, bisa-bisa aku juga ikutan stress mikirin masalahmu. Mendingan ke kantin aja” katanya sambil melengos keluar

Aku berlari mengejarnya“yak! Tunggu!! Ha ra tunggu aku!!” Dia tidak menoleh tetap melanjutkan jalannya, malah memperlebar langkahnya. Dan sekarang dia sudah berbelok menuju tangga.

“yak!! Ha ra…!! Seol Ha ra!!” setelah kupanggil dengan nama marganya, dia pun berbalik.

“hurry… !!” balasnya dalam bahasa Inggris. Aku segera berlari ke arahnya. Kami berdua pun pergi ke kantin yang terletak di lantai bawah.

 

***

“tadi beneran kan Tirus melihat ke arah kita? Iya kan?” Ha ra hanya mengangguk. Kami baru saja kembali dari kantin. Dan tebak siapa yang kami temui di sana? Ya benar! Orang yang kusuka!

“tapi yakin kan tadi Tirus ngeliat ke arah kita? Pasti kan?” tanyaku lagi

“iya…iya..iya…” kali ini Ha ra sedikit berteriak, aku jadi terdiam. “kamu sudah berkata seperti itu 5 kali, mau sampai kapan bertanya seperti itu terus?”

“iya maaf…,tapi tadi Tirus benar-benar menatap ke arah kita kan?” aku menatapnya dengan tampang polos

“aaaaah bisa gila aku disini”Ha ra mencengkram kepalanya, ekspresinya tampak marah.

“iya…iya., aku gak bakal nanya lagi deh”kataku padanya.” Tapi harusannya kamu ngerti dong, kan aku lagi galau “

Ha ra berteriak-teriak kembali, hingga perhatian semua orang sekarang tertuju pada kami “aaiiissshhh….. galau itu lagi!galau!!selalu galau!!”

Dia menirukan wajah orang khawatir”Min ju kenapa kau melamun?”tanyanya

lalu dia berubah tempat dan posisinya, sekarang  wajah orang yang sedang muram “aku sedang galau Ha ra” ujarnya menjawab pertanyaan sendiri. “kau lihat? Selalu seperti itu setiap kali aku bertanya kenapa kau melamun? Dan lagipula galau itu apaan sih?”

aku tertawa melihat tingkah lakunya”galau itu di saat kita sedang binggung”

“ya sudah, kenapa tidak bilang sedang bingung saja? Kan lebih mudah dimengerti”

“tapi galau itu bingung yang beda..”

“beda gimana? Setahuku cuma ada satu bingung”

“galau itu kaya resah, gundah gulana, aaah pokoknya galau deh” sekarang giliran diriku yang marah.

“iih apaan sih? Coba deskripsikan dengan kata-kata yang baku?”

“aaah pokoknya susah.., makanya jangan cuma badan aja yang digedein, otak juga hahahaha”

“bo?! Apa katamu, badan aja yang digedein! Awas kau ya!!” aku segera berlari menghindari Ha ra.

Ha ra memang bertubuh besar tepatnya tinggi tapi cantik , sedangkan aku tubuhku yah bisa dibilang pendek tampangku juga biasa saja. Dan soal omonganku yang tadi aku tidak serius, tentu saja Ha ra tahu itu. Ha ra dan Min ju, semua orang  di sekolah ini tahu bahwa kami adalah sahabat dari kecil sekaligus duo malas, bahkan kemalasan anak laki-laki kalah dibandingkan kami. Kami jarang mengumpulkan tugas, kalaupun iya pasti yang terakhir. Kami juga sering masuk pada saat gerbang hampir ditutup, ke kantin waktu pelajaran, bolos ke UKS, dan banyak kemalasan serta kenakalan lainnya. Tapi yang membuatku bingung nilai Ha ra selalu lebih bagus dariku bahkan dia selalu masuk 10 besar, aku sih senang-senang saja sahabatku mendapat nilai bagus, tapi kan kami malas bersama. Kenapa nilaiku jelek sedangkan dia bagus?ini tidak adil.  Aku pernah mencoba diam-diam belajar di rumah tanpa sepengetahuan Ha ra, hasilnya? Nilaiku sih lumayan 85, tapi nilai Ha ra hampir mendekati sempurna, 93. Padahal malam sebelumnya dia bermain game online sampai malam, sungguh dia jenius.

“menurutmu apa arti tatapan Tirus tadi?”

“molla”katanya sambil mengangkat bahu. Kami sudah tidak kejar-kejaran lagi.

“ayolah Ha ra… aku bingung,”

“baiklah… tapi ini hanya perkiraanku saja ya”

“emm”

“yang pertama, dia suka sama salah satu diantara kita, yang kedua dia benci sama salah satu diantara kita, yang ketiga dia punya sesuatu yang ingin disampaikan kepada salah satu diantara kita, yang keempat yah cuma ngeliat saja”

“lah cuma ngeliat saja?maksudnya?”

“ya cuma ngeliat saja, misalnya kita nyebrang jalan pasti gak mungkin gak lihat lampu pejalan kakikan? Yah semacam itu lah” jelasnya sambil membuka pintu kelas

Mulutku langsung membentuk huruf o kecil. “terus yang paling besar kemungkinannya yang mana?”aku segera masuk dan berjalan ke arah kursiku

“menurutku yang keempat, paling rasional” Ha ra langsung duduk di kursi sebelahku, yang memang tempatnya.

“masa sih?”

“ya udah kalau gak percaya! Tanya aja Min ho” jari telunjuknya terarah ke anak laki-laki dengan rambut berantakan yang sedang tidur dalam posisi duduk di kursi depanku. Yang ditunjuk terbangun lalu berbalik dan memasang tampang polos.

Min ho…. nama lengkapnya Choi Min ho. Hobinya tidur di kelas. Dia adalah sahabat kami berdua dari kecil. Tapi bedanya Min ho adalah laki-laki, sehingga tidak setiap saat dia bisa bermain bersama kami. Min ho juga malas seperti kami, bisa dibilang dia satu-satunya anak laki-laki yang bisa mengalahkan kemalasan kami berdua. Walaupun malas, Min ho termasuk idola sekolah, dikarenakan wajahnya yang tampan serta tubuhnya yang atletis. Nilainya selalu paling tinggi di kelas dalam bidang olahraga. Dia juga berasal dari keluarga yang lumayan berada. Sehingga tidak aneh banyak kakak kelas perempuan yang naksir padanya.

“aku!? kok bawa-bawa namaku sih” tanya Min ho tidak mengerti

“iya kok jadi tanya Min ho, kan dia tidak tahu permasalahannya” timpalku

“kan si Tirus laki-laki, begitu pula Min ho. Jadi ya tanya aja dia, siapa tau Min ho tau arti tatapan itu.”

“ooh iya ya benar juga, kau memang pintar Ha ra”kataku sambil menepuk-nepuk bahunya.  Ha ra hanya tersenyum sok cool.

“eeh tunggu dulu, si Tirus itu siapa lagi?” tanya Min ho lagi, sekarang wajahnya lebih polos dari sebelumnya.

Aku hanya melamun, kembali mengingat pangeran Tirusku. . Aku menamainya tirus karena pipinya begitu tirus bagaikan seorang model. Tubuhnya juga tinggi dan tegap, pokoknya persis model deh. Dialah orang yang kusuka, sunbaeku, sekaligus ketua osis di sekolah. Walaupun dia memakai kacamata yang membuatnya terlihat geeky tapi tetap saja ketampanannya tidak dapat dipungkiri. Dia juga pintar dan sangat baik, bahkan dia seorang gitaris band sekolah yang sangat terkenal. Makanya dia jadi idola sekolah, dan juga… terlalu jauh untuk dijangkau.

“Min ju….Min ju…. “ Ha ra melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Aku jadi tersadar dari lamunanku.

Min ho menggeleng-geleng”ngelamun terus… kau belum menjawab pertanyaanku, siapa tirus itu?”

Aku tersenyum”tirus itu…..

 

***

“jadi menurutmu apa arti tatapan itu?” tanyaku pada Min ho

“molla” jawabnya dengan wajah polos

“bagaimana sih? Kaliankan sama-sama laki-laki!”

“iya tapi tidak semua laki-laki sama tau!” mulutnya mulai maju. Aku hanya cemberut mendengarnya. “Ha ra… bantu aku” aku kembali merajuk pada Ha ra.

Ha ra hanya memutar bola matanya dan melanjutkan membaca komik yang dipegangnya.

“aaah kalian ini tidak ada yang membantu, aku tidak mau berteman dengan kalian lagi”aku menyilangkan tanganku,berharap mendapat perhatian. Tapi ternyata tidak berhasil,

“iih!! itu kan komik Full Metal Alchemist  yang paling baru!!” teriak Min ho sambil menunjuk ke arah komik yang dipegang Ha ra.

“iya kok tahu?” Ha ra menghentikan kegiatan membacanya

“itu komiknya kan keren banget.. aku udah ngikutin dari nomor pertama” aku mulai merasa diabaikan oleh mereka berdua

“tjintja? Aku juga..”

Dan mereka mulai hanyut ke dalam obrolan tentang komik itu tanpa memperdulikan aku yang sedang pura-pura marah. Aku akhirnya merenungi nasib kembali. Kenapa orang yang kusuka begitu sempurna? Kenapa aku tidak sempurna? dan Kenapa ya aku bisa suka sama sunbae itu? Oh iya ya karena itu… Apa? kalian mau tahu? Baiklah kalau itu permintaan kalian. Aku akan mulai bercerita.

Semua itu bermula dari diadakannya ujian kenaikan kelas. Setiap murid diatur ruangannya. Meja-meja disusun menjadi empat baris dengan enam meja ke belakang. Tiap ruangan tidak hanya diisi satu kelas melainkan dua. Setiap anak dalam satu kelas akan diatur duduk menyerong untuk mempersulit menyontek.  Aku dan Ha ra tidak satu ruangan. Karena marga Ha ra dari  S sehingga dia dapat absen bagian akhir dan kebagian ruangan sebelah. Min ho juga dapat ruangan di sebelah, karena dia anak pindahan dari kelas lain. Sedangkan aku Min ju, Kang min ju, terpaksa mendapat kelas ini.

Aku masuk dengan langkah gontai ke ruangan ku dan mulai mencari nomor mejaku. Ternyata aku dapat meja kedua dari depan. Aku segera meletakkan tasku, duduk dan menghela napas, tahu pasti aku susah untuk menyontek.

“kau kenapa?” tanya suara di sebelahku. Aku segera menoleh, mencari tahu siapa yang mengajakkku bicara. Ternyata sang ketua osis, aku tidak sadar dia duduk di sebelahku. Ia tampak lucu dengan kacamatanya yang bergagang tebal berwarna hitam .

“aah tidak papa sunbae” jawabku gugup

“oohh kirain kenapa? Semangat ya!” ujarnya sambil tersenyum. Senyumnya sangat indah. Aku tertegun sejenak sebelum akhirnya tersadar setelah seosangnim masuk.

“anak-anak ulangan pertama adalah matematika, masukkan semua buku kalian dan sediakan alat tulis di atas meja!”

“ne” semua segera memasukkan buku dan duduk tegak di kursi masing-masing. Aku keringat dingin, karena tadi malam aku belum belajar. Kertas pun dibagikan, aku pun mulai mengerjakannnya. 20 menit berlalu, belum sampai 5 soal yang kukerjakan. Aku langsung tersungkur di mejaku, pasrah nilaiku akan jelek. Lalu aku mendengar seseorang berbicara.

“no. 3 C, no 4 B, no 5 E” aku menoleh mencari asal suara, ternyata sunbae!

Dia mengintip kertas jawaban teman sekelasku  yang duduk di belakangnya, anak dengan rangking 1 di kelasku“no 6 A, no 7 A, no 8 D, cepetan!!”

“hah?” aku tidak sadar dia sedang memberiku jawaban

“jawaban soalmu, cepat sebelum seosangnim lihat!” katanya sambil melihat ke depan, takut ketahuan seosangnim.

“ne” aku segera mengisi kertasku. Begitulah selama berhari-hari dia membantuku. Kadang-kadang, aku pun membantunya. Bahkan kami sempat ketahuan. Di pelajaran bahasa Inggris, yang aku baru tahu setelahnya bahwa sunbae tidak jago dalam pelajaran ini.

“no 19 A, no 20 D, no 21 D, no 22 C, no 23 B, no 24 A” katanya padaku sambil tersenyum, kali ini dia tidak mengintip tapi lembar jawaban anak yang dibelakangnya, tapi memberitahu jawabannya sendiri. Aku terpesona akan senyumnya dan melamun.

“no 19 A, no 20 D, no 21 D, no 22 C, no 23 B, no 24 A” katanya mengulangi sambil melirik ke depan, melihat seosangnim.

“hah?” aku masih terpana melihatnya

“no 19 A, no 20 D, no 21 D, no 22 C, no 23 B, no 24 A” katanya mulai serius

“hah?” otakku mulai tidak merespon. Dia tersenyum dan mendekatkan badannya ke mejaku. Aku hanya terdiam, jantungku berdetak cepat. Dia menunjuk kertas jawabanku, jarinya terarah pada no 19.

“ A, D, D, C, B, A” katanya menjelaskan dengan sabar. Aku hanya tertawa, menyadari kebodohanku. Dia pun ikut tertawa. Tawa kami cukup kencang hingga seosangnim tersadar dan melirik ke arah kami. Tapi untung saja seosangnim tidak marah. Dia hanya berkata

“Min ju…, jangan ikuti sunbaemu itu, dia tidak pandai dalam bahasa Inggris”

“ne seosangnim” aku sedikit membungkuk, tapi aku tidak percaya ucapan beliau sampai melihat nilaiku di papan pengumuman, nilai bahasa Inggrisku yang paling jelek dalam satu kelas. Aku sedikit kecewa melihatnya, tapi bila mengingat kembali kedekatan kami itu kekecewaanku langsung menguap.

Itulah mengapa aku menyukainya. Dia baik dan tampan. Tapi setelah ujian itu selesai kedekatan kami pun usai. Sunbae bahkan tidak pernah menyapaku ketika kami berpapasan di lorong sekolah. Sekalipun tidak. Tapi sejak ujian itu aku tahu bahwa aku telah dibuat jatuh cinta olehnya.

***

Setelah beberapa hari sejak kejadian di kantin,kejadian yang dapat membuatku melayang bila mengingatnya pun terjadi. Waktu itu aku belum pulang dari sekolah, walaupun bel pulang sudah berbunyi 1 jam yang lalu. Aku sedang menunggui Ha ra yang sedang mengikuti ekskul english club di sekolah. Aku menunggu sambil duduk-duduk di depan ruangan english club sendiri. Aku sedang memainkan game di handphoneku, saat seseorang menepuk bahuku.

“sunbae!!” teriakku kecil. Kuhentikan permainan di handphoneku.

Tirus mengikuti duduk di lantai“Min ju, kenapa kau belum pulang?” saat itu denyut jantungku sudah meningkat. Tenggorokanku rasanya seperti tercekat, susah sekali untuk berbicara. Tapi aku berusaha untuk tenang agar tidak ketahuan sunbae. Akhirnya aku dapat mengeluarkan suaraku.

“ aku sedang menunggui Ha ra” suaraku terdengar serak

“ooh, begini Min ju kita kan teman seperjuangan dalam ulangan kemarin, jadi maukah kamu membantuku?” aku hanya mengangguk lemah

“ini! Tolong isi ya…” katanya sambil menyodorkan salah satu kertas dari setumpuk kertas yang dari tadi dibawanya. Aku yang masih tidak dapat berkata-kata hanya mengangguk kembali. Dia langsung tersenyum. Aku langsung merasa melayang saat itu.

“nanti kertasnya kuambil lagi, daa” dia berdiri dan meninggalkanku yang masih merasa melayang. Setelah aku mengisi kertas itu yang berisi pertanyaan seputar HIV dan AIDS. Aku pun menuju ruang OSIS untuk mengembalikannya pada Tirus, karena aku tidak ingin merepotkannya. Entah kebetulan atau apa ternyata di tengah jalan aku bertemu dengannya.

“Min ju kau sudah selesai? Aku baru saja ingin menuju ke tempatmu tadi.” Aku berusaha menenangkan diriku. Setidaknya kali ini suaraku tidak boleh terdengar serak.

“ne sunbae, ini” aku berhasil suaraku keluar dengan sangat mulus walaupun sedikit bergoyang. Sunbae segera menerima kertas yang kusodorkan padanya.

“terimakasih yaa, kau memang teman  yang baik” katanya sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku tertegun tidak tahu harus bereaksi apa. aku takut sunbae melihat wajahku yang mulai nampak merah. Tapi ternyata dia telah melesat pergi dengan cepat. Habis sudah kesempatanku untuk berbicara padanya.

Seperti biasa keesokan harinya aku menceritakan hal itu pada Ha ra. Tapi seperti biasa Ha ra hanya menanggapinya bagai angin lalu.

***

Aku segera berlari-lari menuju kelas. Setelah melihat orang yang kucari. Aku langsung melesat menuju ke tempat orang tersebut.

“Ha ra!! Ha ra!!” aku berteriak-teriak memangil Ha ra

“bo?”

“kamu pasti tidak akan percaya..” jawabku

“memang ada apa?” tanyanya penasaran.

Aku menunjukkan layar handphoneku tepat di depan wajahnya. Ha ra menatapnya dengan menyelidik. Aku menunggu reaksinya. Ternyata tidak seperti yang kubayangkan

“kau memata-matai twitternya Tirus?” tanyanya dengan tatapan tidak percaya

“emm.. aku kan hanya ingin melihat twitternya saat itu saja”

“ya.. ya.. terserah. Kurasa selama ini kau selalu memantau twitternya. Iya kan?” aku yang sudah ketahuan, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Lihat… apa yang kutemukan” kataku sambil menunjukkan kembali layar handphoneku padanya”ini coba baca” kataku sambil menunjukkan salah satu tweetnya Tirus.

-#akukepadamu KMJ-

“sepertinya Tirus menykai seseorang, inisialnya KMJ.menurutmu siapa KMJ?” tanyaku pada Ha ra yang daritadi hanya diam saja

“entahlah Min ju, aku takut prediksiku ini salah”

“hah? Kau tahu? Katakan padaku ayoo..”rengekku

Ha ra menghela napasnya”baiklah kalau kau memaksa, dari semua orang yang kutahu namanya di sekolah ini. Hanya kau yang berinisial KMJ. Kang Min Ju”

Aku terkejut. Benarkan sunbae menyukaiku? Benarkah KMJ itu aku? Begitu banyak pertanyaan di otakku. Tapi aku ingin…sangat ingin mempercayai prediksi Ha ra. Sampai bel istirahat aku masih saja memikirkan hal itu. Ha ra yang sudah lapar memaksaku menemaninya ke kantin padahal aku tadinya ingin di dalam kelas saja. Tapi aku bersyukur Ha ra memaksaku, karena aku dapat bertemu Tirus di tengah perjalanan kami ke kantin. Aku sudah melihatnya di lorong sekolah, berjalan sendiri ke arah kami dengan gagahnya. Aku menarik napasku, berusaha mengumpulkan keberanian. Setelah mendekati kami. Aku memberanikan diri tersenyum padanya, dan kau tahu apa? dia membalas senyuman ku dengan senyuman juga. Rasanya sangat menyenangkan. Bahkan ketika Ha ra mendengar ceritaku di kelas, untuk pertama kalinya ia menyemangatiku untuk dapat dekat dengan Tirus. Hari itu terasa seperti surga. Walaupun itu hanya ilusiku saja.

***

“Ha ra… Ha ra… tolong artikan tweet-an Tirus yang ini” aku menunjukkan tweet Tirus kemarin malam.

-I stupid,  still…you’re my heaviest burden , but i always your reserve-

“hahahahahaha…” Ha ra malah tertawa

“bo?memang ada yang lucu?”tanyaku tidak mengerti

“pasti Tirus tidak pandai dalam pelajaran bahasa Inggris, lihat begitu banyak grammar yang salah. Mana mungkin stupid yang adjective terletak di sebelah subject tanpa to be. Dan I always your reserve, ini sangat ganjal. Seharusnya I always be your reserve ”

Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya. “aku tidak peduli hal itu Ha ra, aku hanya ingin tahu apa artinya?”

“baik..baik.., aku bodoh, tetap kaulah beban terberatku, tapi aku selalu menjadi cadanganmu”

***

“kumohon jadilah yeojachinguku…” kata laki-laki itu sambil berlutut dan menyodorkan seikat bunga pada Ha ra. Aku bersembunyi di balik tembok agar tidak ketahuan.

“mianhae sunbae, aku sudah punya orang yang ku suka” jawab Ha ra dengan wajah sedih

Wajah sunbae itu langsung kecewa, dia pun langsung berdiri”gweanchana, tapi kita tetap bisa jadi teman kan?” tanyanya dengan wajah was-was

“geuromyeon”  jawab Ha ra sambil mengangguk” aku permisi dulu” Ha ra membalikkan badannya dan pergi. Aku berlari-lari kecil menyusulnya.

“Ha ra! Kenapa kau tidak menerima sunbae itu? Dia kan baik juga tampan serta anak konglomerat.” Tanyaku setelah aku bisa menyejajarkan langkah kami

“kan tadi aku udah bilang ada orang yang ku suka..” jawab Ha ra dengan datar

“tjintja? Ku kira itu hanya alasanmu. Siapa?” tanyaku ingin tahu

“pokoknya ada, dan kau tidak boleh tahu!” katanya dengan muka usil

“bo? Wae?”

“habisnya pasti nanti kau menertawaiku”

“tidak akan kok” aku kembali merayunya agar diberitahu siapa orang yang dia suka. Kami terus berjalan hingga ke arah taman. Hingga Ha ra tiba-tiba berhenti.

“kenapa berhenti?”

Ha ra tampak terkejut”coba lihat itu.. bukannya itu Tirus!”

“hah! Mana?” aku berjinjit sambil melihat sekitar. Ya benar ada Tirus. Dia sedang berdiri di sebelah pohon besar di sekolah kami. Tapi tunggu dia tidak sendiri, ada seorang wanita bersamanya. Wanita itu tampak menangis dan Tirus mengelus-ngelus kepalanya. Tunggu mengelus-ngelus kepalanya. Belum cukup sampai di situ bahkan pangeran Tirusku memeluknya. Aku seperti tidak bisa bernafas. Rasanya ada yang mencekek leherku.

“Min ju…. are you all right?” suara Ha ra tampak seperti orang yang khawatir. Ha ra menuntunku yang masih shock setelah melihat kejadian tadi. Setelah sampai di kelas aku tidak tahan lagi, aku hanya menangis sejadi-jadinya. Rasanya hatiku sakit. Seharusnya aku tahu konsekuensinya suka padanya. Seharusnya aku sadar kebaikan Tirus pada waktu ujian hanya sebatas kebaikan, tidak lebih.  Dia terlalu jauh. Tidak terjangkau…. tapi tetap saja rasanya sakit, setiap malam aku hanya menangis di pojok ruangan hingga mataku sakit dan jatuh tertidur. Tapi tetap sakit…

***

Setelah beberapa minggu dapat menyelesaikan rasa sakit itu. Aku kembali seperti diriku yang dulu. Yang lebih ceria. Aku dengar desas-desus bahwa gadis di sebelah Tirus kemarin adalah mantan pacarnya. Dan tidak seorang pun tahu apa yang mereka lakukan berdua di bawah pohon kemarin. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tidak boleh suka lagi terhadap Tirus, aku hanya mengidolakannya saja, sama seperti gadis lain di sekolah ini, tidak ada yang spesial. Tidak menyukainya. Bila tidak nanti hatiku sakit lagi. karena aku pun tidak berani menyatakan perasaanku pada Tirus. Jadi hal itu percuma. Kami hanya dapat bersama di dalam bayanganku, di saat aku bermimpi. Dia terlalu jauh, terlalu susah untuk digapai.

Aku kembali bersama teman-temanku. Melakukan hal yang dulu-dulu. Bertemu dengan orang baru. Merajut kisah cinta baru. Kau pasti tidak menyangka, bahwa orang yang disukai Ha ra waktu itu adalah Min ho. Dan yang mengejutkan lagi Min ho juga menyukainya sejak dulu. Mereka akhirnya jadian dan menjadi pasangan idola di sekolah. Setelah lulus sekolah, mereka melanjutkan studi di Amerika dan menikah di sana. Sungguh aku binggung dengan kedua sahabatku ini. Dan aku… aku akhirnya berpacaran dengan Sungmin, Lee Sungmin. Kau tahu orang yang duduk di belakang Tirus waktu ujian, ya betul itu dia. Orang  yang dilihat kertas jawabannya oleh Tirus. Anak laki-laki dengan predikat rangking 1 di kelas. Sungmin sangat baik dan menyenangkan. Bersamanya aku dapat melupakan Tirus, cinta pertamaku dan merasakan cinta lagi.

Sementara Tirus, dia lulus dengan nilai terbaik di sekolah dan masuk ke Universitas terbaik di seoul. Oh iya sudahkah aku memberitahu kalian bahwa Nama aslinya adalah Choi Seung hyun biasa dipanggil T.O.P.?Seung hyun akhirnya menikah dengan mantan pacarnya yang dulu dan dikaruniai 2 anak yang lucu. Aku datang loh ke pernikahan mereka. Dan menurut kabar yang berhembus, waktu itu di bawah pohon, mantan pacar Tirus-yang sekarang menjadi istrinya-meminta kembali berpacaran dengan Tirus. Tapi Tirus  menolaknya karena ada gadis yang disukainya. Tapi mungkin Tirus masih mempunyai perasaan yang mendalam pada mantannya tersebut. Sehingga rasa sukanya terhadap gadis misterius itu, tidak dapat menahannya. Hah sayang sekali.. Aku jadi penasaran siapa ya gadis itu? Apa aku orangnya?

“jagi kau sedang melamun lagi ya, kan sudah kubilang jangan melamun lagi, itu tidak baik!” ucap seseorang dengan marah

“aah ne…ne.. mianhae” ucapku terbata-bata

“cepatlah Bong sun sudah merengek-rengek dari tadi, kita jadi pergi tidak?”tanya suara itu lagi

“ne! Ini aku sudah siap, ayo berangkat!” jawabku sambil tersenyum dan meraih tangan kecil itu,

“ne kajja” Sungmin memegang tangan Bong sun yang satu lagi dan kami pun pergi.

Aku akhirnya hidup bahagia bersama suamiku, Lee sungmin dan Putriku, Bongsun.

 

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s